Foto : Para pengunjung di Museum Kayu
PUBLIKNEWS.CO, KUKAR– Di tengah keterbatasan sumber daya, Museum Kayu Kutai Kartanegara tetap bertahan sebagai penjaga identitas ekologis Kalimantan.
Sejak diresmikan pada 1994, museum ini menjadi pusat edukasi masyarakat mengenai keanekaragaman hayati hutan tropis, meskipun kini menghadapi tantangan serius dalam hal perawatan koleksi.
Museum yang berlokasi di kawasan kompleks Museum Mulawarman itu menyimpan puluhan jenis kayu khas Kalimantan. Beberapa di antaranya berasal dari kawasan konservasi seperti Bukit Suharto dan Kebun Raya Samarinda.
Namun, sejumlah koleksi kini mengalami kerusakan akibat usia dan minimnya perawatan. Pamong Budaya Ahli Muda Disdikbud Kukar, M. Saidar atau Deri, mengungkapkan sebagian besar kayu belum pernah diganti atau direstorasi sejak pertama kali ditata 30 tahun lalu.
“Kalau jenisnya ulin mungkin masih tahan, tapi beberapa jenis kayu lain sudah mulai rapuh. Apalagi sejak berdiri belum ada pergantian bahan,” jelas Deri saat ditemui, Senin (12/5/2025).
Selama empat tahun terakhir, museum tidak mendapatkan anggaran khusus untuk perawatan koleksi. Akibatnya, staf hanya mengandalkan metode tradisional, seperti merendam kayu dengan air tembakau dan pelepah pisang kering untuk memperlambat kerusakan.
“Anggaran khusus untuk perawatan sudah nggak ada sekitar empat tahun terakhir,” tambah Deri.
Sementara itu, Koordinator Museum Kayu Kukar, Sophian Hadi, menambahkan bahwa meskipun koleksi museum tidak dianggap sakral seperti koleksi sejarah di Museum Mulawarman, namun nilainya sangat penting sebagai sumber pengetahuan ekologis. Bahkan dua ekor buaya yang diawetkan di dalam museum belum pernah ada pengecekan atau pun perawatan karena terbentur biaya operasional.
“Buaya itu harus dicek oleh tim dokter hewan. Tapi karena keterbatasan anggaran, sejauh ini belum ada perawatan secara menyeluruh,” ujar Sophian.
Dengan hanya empat orang petugas, kegiatan pembersihan dan pelayanan pengunjung dilakukan secara manual tanpa dukungan bahan kimia atau alat modern. Meski begitu, antusiasme masyarakat tetap tinggi dengan rata-rata 100 hingga 200 pengunjung datang setiap bulan, terutama pada akhir pekan dan musim liburan.
“Kalau akhir pekan, banyak yang minta dipandu meskipun sudah ada papan informasi. Mungkin lebih enak dengar langsung ceritanya,” kata Sophian.
Ia menyebut, pihaknya berharap ada sinergi dari berbagai pihak untuk merevitalisasi Museum Kayu, termasuk pelibatan akademisi dan sektor swasta dalam perawatan dan pengembangan fasilitas.
“Ini bukan sekadar tempat memajang kayu, tapi tempat belajar tentang identitas kita sebagai bagian dari hutan Kalimantan,” tandas. (Adv)







Users Today : 109
Total Users : 485660
Views Today : 219
Total views : 1572880
Who's Online : 5