Publiknews.co Samarinda – Dalam merespons meningkatnya kasus kenakalan remaja dan krisis identitas di kalangan generasi muda, Ketua DPRD Kalimantan Timur, Hasanuddin Mas’ud, menekankan bahwa sekolah perlu berfungsi lebih dari sekadar institusi akademik.
Ia menyatakan bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman secara sosial dan emosional, yang mampu membantu remaja mengatasi tekanan dan menemukan kembali jati diri mereka.
Menurut Hasanuddin, tekanan dari lingkungan sosial, kurangnya dukungan keluarga, serta derasnya arus informasi digital telah menciptakan kondisi di mana remaja mudah kehilangan arah.
“Anak-anak kita saat ini tidak hanya bergumul dengan perilaku menyimpang, tetapi juga mengalami kebingungan dalam membentuk identitas diri. Sekolah seyogianya hadir sebagai tempat perlindungan dan pemulihan, bukan semata-mata ruang belajar akademik,”ungkap Hasanuddin, Senin (9/6/2025).
Ia menyayangkan bahwa masih banyak pelajar yang menghadapi tekanan psikologis tanpa adanya ruang terbuka untuk menyuarakan kegelisahan mereka. Pendekatan pendidikan yang terlalu menekankan aspek disiplin administratif tanpa mempertimbangkan aspek empati justru memperlebar jarak antara siswa dan institusi pendidikan.
“Kita terlalu sering berbicara tentang hukuman, padahal dalam banyak kasus, yang dibutuhkan siswa hanyalah didengar dan dipahami. Pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang merangkul, bukan sekadar mengatur,”ujarnya.
Hasanuddin mendorong Dinas Pendidikan dan seluruh lembaga sekolah untuk memperkuat peran layanan konseling serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih humanis.
Ia menekankan pentingnya menciptakan ruang interaksi yang penuh pengertian dan dukungan emosional.
Lebih lanjut, ia juga mengkritisi pendekatan konvensional dalam sistem pendidikan yang cenderung menitikberatkan pada nilai dan sanksi, namun kurang memberi ruang untuk pemulihan dan penguatan karakter.
Ia turut menyoroti bahwa renggangnya relasi antara remaja dan keluarga juga berkontribusi terhadap krisis yang dihadapi para pelajar.
Menurutnya, pendidikan karakter seharusnya menjadi gerakan bersama yang melibatkan tidak hanya pihak sekolah, tetapi juga orang tua dan masyarakat.
“Ketika seorang anak tidak memiliki figur panutan di rumah, mereka akan mencari referensi lain di luar. Jika sekolah dan keluarga tidak berjalan seiring, maka risiko mereka tersesat dalam pergaulan yang salah semakin besar,”jelasnya.
Hasanuddin juga menyerukan pembaruan dalam sistem kurikulum nasional yang dinilainya belum cukup adaptif terhadap kebutuhan sosial dan psikologis remaja masa kini.
“Pendidikan semestinya menjadi wadah untuk tumbuh dan berkembang, bukan sekadar sarana mengejar angka atau sertifikasi. Sekolah harus mampu menjadi tempat yang membangun karakter dan memberi rasa aman,”tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Hasanuddin menekankan bahwa menciptakan sekolah yang inklusif dan ramah hanya dapat tercapai melalui kolaborasi seluruh elemen dari pendidik, keluarga, hingga komunitas sekitar.
“Jika kita serius ingin mengurangi tindak kekerasan dan kenakalan remaja, maka hal pertama yang harus dibangun adalah hubungan emosional yang sehat. Bukan sekadar melalui kontrol, tetapi lewat kepercayaan dan kepedulian,”pungkasnya.
Penulis Nisnun Editor Redaksi PN







Users Today : 305
Total Users : 441479
Views Today : 639
Total views : 1501951
Who's Online : 3