Publiknews.co Samarinda – Lonjakan laba PT Palma Serasih Tbk (PSGO) sepanjang 2025 menjadi sinyal kuat bahwa bisnis sawit masih sangat menjanjikan. Dengan pendapatan Rp2,55 triliun dan laba bersih Rp442,8 miliar, perusahaan ini menunjukkan daya tahan di tengah gejolak harga global.
Namun di Kalimantan Timur, tempat ribuan hektare kebun dikelola, pertumbuhan ini membawa konsekuensi yang tak kecil. Lebih dari 28 ribu hektare lahan yang digarap bukan sekadar angka produksi, tetapi ruang hidup yang bersinggungan dengan hutan, satwa liar, dan masyarakat sekitar.
Produktivitas yang meningkat ditandai produksi TBS 355,2 ribu ton dan CPO 140,2 ribu ton menjadi tulang punggung keuntungan. Tapi di saat yang sama, sorotan publik mengarah pada bagaimana ekspansi dan intensifikasi kebun dijalankan.
Perusahaan menyatakan berpegang pada prinsip keberlanjutan NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation), termasuk menjaga kawasan konservasi seperti Wehea-Kelay. Kolaborasi dengan Borneo Orangutan Survival Foundation dan The Nature Conservancy disebut sebagai langkah konkret menjaga ekosistem.
Di sisi lain, kemitraan plasma yang sudah berjalan lebih dari satu dekade digadang menjadi jalur distribusi manfaat ekonomi bagi warga lokal. Meski demikian, isu klasik seperti ketimpangan hasil dan transparansi masih menjadi pekerjaan rumah di banyak wilayah perkebunan.
Memasuki 2026, perusahaan menyiapkan ekspansi selektif dan peningkatan efisiensi. Strategi ini berpotensi memperkuat posisi bisnis.
Namun bagi Kalimantan Timur, setiap langkah ekspansi selalu membawa pertanyaan lama: apakah pertumbuhan ini benar-benar sejalan dengan keberlanjutan?
Di balik angka laba yang terus menanjak, taruhannya bukan hanya pada keuntungan, tetapi juga masa depan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di tanah Kaltim.







Users Today : 949
Total Users : 415997
Views Today : 1308
Total views : 1457989
Who's Online : 7