Publiknews.co Samarinda – Ketersediaan tenaga pendidik di wilayah pedalaman Kalimantan Timur, khususnya Kabupaten Kutai Barat (Kubar) dan Mahakam Ulu (Mahulu), masih menjadi persoalan serius.
Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur, Ekti Imanuel, menyampaikan kekhawatirannya terhadap tingginya tingkat rotasi guru di dua daerah tersebut akibat dominasi tenaga pengajar dari luar daerah.
Menurut Ekti, tantangan geografis dan keterbatasan fasilitas menjadi penyebab utama para guru dari luar enggan bertahan lama di daerah penempatan.
Hal ini mengakibatkan tidak adanya kesinambungan dalam proses belajar mengajar, serta berdampak pada kualitas pendidikan di kawasan pedalaman.
“Sudah saatnya rekrutmen tenaga pendidik mengutamakan warga lokal. Mereka memiliki keterikatan emosional yang kuat dengan lingkungan sekitarnya, sehingga lebih mungkin bertahan dan berkomitmen dalam jangka panjang,”ujar Ekti saat ditemui pada Rabu, (18/6/2025).
Ia mengungkapkan bahwa pola rekrutmen selama ini belum menjawab tantangan keberlanjutan pendidikan di wilayah 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal).
Menurutnya, persoalan ini juga berdampak di sektor lain seperti layanan kesehatan, yang turut mengalami kekurangan tenaga profesional.
Ekti mencontohkan, sejumlah dokter yang ditugaskan ke daerah terpencil enggan bertahan karena keterbatasan akses terhadap fasilitas dan minimnya peluang tambahan pendapatan sebagaimana yang bisa mereka peroleh di kota besar.
“Di daerah seperti Mahakam Ulu, seorang dokter atau guru tidak memiliki banyak opsi untuk membuka praktik atau mencari penghasilan tambahan. Kondisi ini menyebabkan banyak dari mereka memilih pindah setelah beberapa tahun bertugas,”jelasnya.
Melihat situasi tersebut, Ekti mendorong agar strategi pembangunan di bidang pendidikan tidak hanya difokuskan pada infrastruktur semata.
Ia menekankan pentingnya investasi dalam peningkatan kapasitas dan pemberdayaan sumber daya manusia lokal agar sistem pendidikan dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Yang dibutuhkan saat ini adalah tenaga pendidik yang tangguh, berkomitmen, dan tumbuh dari komunitasnya sendiri. Untuk mewujudkan itu, dibutuhkan peran aktif masyarakat serta keseriusan pemerintah dalam memberikan pelatihan dan insentif yang tepat,”tandasnya.
Penulis Nisnun Editor Redaksi PN






Users Today : 373
Total Users : 511455
Views Today : 492
Total views : 1619789
Who's Online : 9