Publiknews.co, Kutai Kartanegara – Kesenjangan akses internet di lingkungan sekolah menengah pertama di Kutai Kartanegara (Kukar) mulai dijawab dengan langkah konkret.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar mendorong pemerataan konektivitas digital melalui distribusi perangkat Starlink ke 109 SMP negeri, terutama di wilayah blank spot.
Selama ini, banyak sekolah menghadapi hambatan sinyal yang tidak stabil atau bahkan nihil. Kondisi tersebut tak hanya menghambat pembelajaran daring, tetapi juga mempersulit pengelolaan administrasi dan komunikasi internal antarpendidik.
“Beberapa sekolah kita bahkan sulit menerima sinyal dasar. Starlink menjadi solusi yang kami dorong untuk menjembatani kesenjangan ini,” kata Mujahiddin, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana SMP Disdikbud Kukar, Senin (4/8/2025).
Distribusi perangkat internet berbasis satelit ini dilakukan bertahap, menyesuaikan kebutuhan dan kondisi geografis masing-masing sekolah. Beberapa sekolah menerima satu unit, sementara lainnya mendapatkan dua, tergantung pada tingkat urgensi dan keterjangkauan teknis.
Tak hanya menyasar kemudahan belajar daring, program ini juga diarahkan untuk membentuk fondasi sistem pendidikan yang lebih adaptif terhadap transformasi digital. Dengan koneksi internet stabil, pengelolaan data, pelaporan, serta kegiatan administrasi sekolah bisa berlangsung lebih efisien.
“Ini bagian dari ekosistem digital yang sedang kami bangun. Bukan hanya untuk murid, tapi juga untuk mendukung kerja guru dan tata kelola sekolah,” ujar Mujahiddin.
Tim teknis dari penyedia layanan berbasis di Jakarta tengah menyelesaikan proses aktivasi perangkat. Disdikbud Kukar menargetkan seluruh unit Starlink bisa beroperasi dalam bulan ini.
Saat ini, beberapa sekolah di kecamatan terpencil seperti Tabang dan Kembang Janggut menjadi prioritas. Wilayah-wilayah ini selama bertahun-tahun mengalami keterbatasan akses jaringan, yang menyebabkan ketimpangan dalam penerapan teknologi pendidikan.
Mujahiddin berharap, dengan jaringan internet yang merata, tidak ada lagi perbedaan kesempatan antara sekolah kota dan desa dalam hal akses ke sumber belajar digital.
“Kami ingin semua sekolah berdiri di garis yang sama, tanpa harus khawatir soal sinyal atau jaringan. Pemerataan ini penting agar pendidikan bisa benar-benar menjangkau semua,” pungkasnya. (Adv)






Users Today : 172
Total Users : 467050
Views Today : 701
Total views : 1543446
Who's Online : 5