Foto: Petugas Kelurahan Melayu saat jemput sampah di SDN 009 Melayu (Nur/Publiknews)
Publiknews.co, Kutai Kartanegara – Pagi di SDN 009 Jalan Danau Aji Tenggarong tampak berbeda. Puluhan murid berbaris rapi sambil membawa kantong berisi sampah yang sudah dipilah.
Kegiatan itu telah menjadi bagian dari Program Jemput Sampah Melayu (Jumpamu) yang kini gencar diterapkan di Kelurahan Melayu.
Lewat Jumpamu, siswa tak hanya belajar di kelas, tetapi juga diajak langsung memahami arti kebersihan dan pentingnya memilah sampah sejak dini. Pemerintah kelurahan bekerja sama dengan sekolah-sekolah setempat, seperti SDN 009, SMPN 3 Tenggarong hingga MTs Al-Kautsar, untuk menjalankan program ini melalui nota kesepahaman selama setahun.
“Sekolah menjadi penggerak utama, karena di sinilah kebiasaan anak dibentuk. Alhamdulillah hasilnya sudah mulai terlihat,” ujar Kasi Pembangunan Kelurahan Melayu, Taufik Anwar, Minggu (21/9/2025).
Setiap Sabtu, sampah yang dikumpulkan siswa dijemput pihak kelurahan dan disalurkan ke bank sampah mitra. Pola sederhana ini mengurangi volume sampah sekaligus mendukung program Adiwiyata yang menjadikan sekolah sebagai pusat pembelajaran pengelolaan lingkungan.
Tidak hanya soal buang dan pilah sampah, anak-anak juga diajak mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Mereka dibiasakan membawa bekal dengan wadah yang bisa digunakan berulang, sebuah langkah kecil yang perlahan menanamkan kesadaran ramah lingkungan.
Manfaatnya mulai terlihat nyata. Dalam dua bulan terakhir, misalnya, SMPN 3 yang biasanya menghasilkan sekitar 40 kilogram sampah per minggu kini bisa menekannya secara signifikan. Angka ini menjadi bukti bahwa kebiasaan baik yang konsisten mampu mengubah banyak hal.
Lebih jauh, Jumpamu tak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memberi nilai ekonomis. Sampah plastik dan kertas yang terkumpul bisa dijual kembali melalui bank sampah, sehingga anak-anak belajar bahwa kebersihan juga bisa menghadirkan manfaat tambahan.
Pemerintah kelurahan pun berencana memperluas program ke sekolah lain agar lebih banyak anak yang terlibat.
Dengan begitu, budaya memilah dan mengurangi sampah dapat menyebar luas, bukan hanya di sekolah tetapi juga terbawa hingga ke rumah dan lingkungan masyarakat.
“Yang terpenting adalah membentuk generasi peduli lingkungan. Kalau anak-anak sudah terbiasa sejak kecil, kita optimis kebiasaan ini akan terus melekat hingga dewasa,” pungkas Taufik. (Adv/Nr)







Users Today : 457
Total Users : 432748
Views Today : 788
Total views : 1487443
Who's Online : 11