Foto: Plt Lurah Bukit Biru, Sudiyarso (Nur/Publiknews)
Publiknews.co, Kutai Kartanegara – Para petani di Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong bersama pemerintah daerah menggelar panen padi dengan cara yang berbeda dengan memadukan sistem ramah lingkungan LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) dengan teknologi digital farming menggunakan drone sprayer.
Panen kali ini tak hanya menjadi ajang syukuran, tetapi juga bukti nyata bahwa pertanian bisa dikelola dengan cara yang lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan.
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji, Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, hingga jajaran Forkopimda ikut turun langsung menyaksikan hasil kerja para petani Bukit Biru.
Sistem LEISA sendiri mengedepankan pemanfaatan sumber daya lokal dan mengurangi ketergantungan pada pupuk maupun pestisida kimia. Dengan begitu, tanah lebih terjaga, biaya produksi berkurang, dan hasil panen pun lebih sehat untuk dikonsumsi.
Tak berhenti di situ, Kukar juga mulai melangkah ke era pertanian modern. Drone sprayer diperkenalkan untuk membantu petani mengendalikan hama sekaligus merawat tanaman. Cara ini membuat pekerjaan di sawah lebih cepat, hemat tenaga, dan hasilnya lebih optimal.
Plt Lurah Bukit Biru, Sudiyarso, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Ia menyebut hasil panen melonjak drastis.
“Biasanya hanya 3 ton per hektare, sekarang bisa mencapai 6 sampai 7 ton. Ini capaian luar biasa,” katanya.
Bantuan alsintan dari pemerintah berupa traktor, paket demplot, dan drone sprayer disebut makin meringankan beban petani. Menurut Sudiyarso, inovasi ini membuat mereka lebih bersemangat karena hasil yang diperoleh sebanding dengan usaha yang dikeluarkan.
Ke depan, petani di Bukit Biru berencana mengoptimalkan pola tanam hingga tiga kali dalam setahun. Dengan pendampingan berkelanjutan, mereka optimistis bisa meningkatkan produksi sekaligus menjaga kelestarian lahan.
Sudiyarso juga menekankan pentingnya pembaruan data kelompok tani dan luas lahan agar program pertanian bisa lebih terarah. Baginya, data akurat menjadi fondasi untuk merancang strategi pertanian yang lebih tepat sasaran.
“Harapan kami, Bukit Biru bisa menjadi contoh nyata bagaimana teknologi dan kearifan lokal bisa berjalan berdampingan demi pertanian yang berkelanjutan,” pungkasnya. (Adv/Nr)






Users Today : 458
Total Users : 432749
Views Today : 790
Total views : 1487445
Who's Online : 11