Teks foto ,Proses pemotongan dan pengemasan daging kurban
PUBLIKNEWS.CO.Samarinda – Pagi itu, Suasana penyembelihan hewan kurban tampak ramai di Jalan Emboen Suryana, Gang Jalur Masjid, RT 29, Kota Samarinda. Sejak pagi, warga mulai memadati lokasi pelaksanaan kurban untuk bersama-sama membantu proses pemotongan hingga pembagian daging kepada masyarakat.
Aktivitas berlangsung penuh gotong royong. Sebagian warga terlihat sibuk menangani proses penyembelihan dan pemotongan daging.
Di tengah riuh gotong royong tersebut, pelaksanaan ibadah kurban Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah di RT 29 kembali menjadi momen yang bukan sekadar tentang penyembelihan hewan, tetapi juga tentang kebersamaan warga yang terjalin hangat dari pagi hingga sore hari.

teks foto ,Ketua panitia ,Fachmi Rozano
Tahun ini, panitia mengelola enam ekor sapi, meningkat dibanding tahun lalu yang berjumlah lima ekor sapi dan empat kambing. Dari enam sapi tersebut, satu ekor di antaranya merupakan amanah khusus dari seorang warga untuk dibagikan kepada masyarakat yang paling membutuhkan.
“Tahun lalu ada lima sapi dan empat kambing. Tahun ini peningkatannya di jumlah sapi, sementara kambing absen. Tapi alhamdulillah, pembagiannya tetap merata,” ujar Ketua Panitia Qurban, Fachmi Rozano, Rabu, 27 Mei 2026.
Sehari sebelum pelaksanaan, panitia sudah lebih dulu melakukan pendataan penerima daging kurban. Data tersebut kemudian digunakan untuk pembagian kupon agar distribusi berjalan tertib dan merata.
“Rata-rata setiap kupon menerima sekitar 0,8 kilogram daging. Mungkin tidak sampai satu kilogram penuh, tetapi yang paling penting semua warga bisa ikut merasakan berkah kurban,” jelas Fachmi.

teks foto ,Proses penyembelihan Sapi oleh panitia
Kekompakan paling mencolok terlihat dari deretan ibu-ibu RT 29 yang kompak mengenakan seragam oranye. Di atas hamparan terpal hijau, mereka bekerja cepat memotong, menimbang, lalu membungkus daging ke dalam kantong plastik sambil sesekali diselingi tawa dan candaan ringan.
Sementara itu, di sisi lain lokasi, aroma rempah mulai menyeruak dari wajan besar tempat beberapa ibu lainnya sibuk mengaduk rendang untuk makan bersama warga dan panitia.
Namun di balik suasana hangat tersebut, panitia juga berupaya menjaga kebersihan lingkungan selama proses penyembelihan berlangsung. Hal itu dilakukan sebagai bentuk kepatuhan terhadap Surat Edaran Wali Kota Samarinda, Andi Harun, terkait pengendalian sampah dan higienitas lingkungan.
Sebuah lubang khusus digali di sudut lokasi penyembelihan untuk menampung aliran darah hewan agar tidak mencemari saluran air di sekitar permukiman. Setelah proses selesai, lubang tersebut kembali ditutup dan ditaburi kapur serta vanili guna mengurangi bau tidak sedap.
“Supaya ibadah kurban ini tetap nyaman untuk lingkungan sekitar juga,” kata Fachmi.
Tak hanya itu, limbah kotoran hewan langsung dikemas ke dalam plastik besar untuk dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sementara proses pembersihan jeroan dilakukan di area dengan aliran air mengalir agar lingkungan sekitar masjid tetap bersih.
Pelaksanaan kurban tahun ini juga mendapat dukungan dari sejumlah sponsor, seperti Enterstop, Promag, dan Royco. Bantuan yang diberikan berupa seragam panitia, tote bag, hingga sampel produk gratis untuk warga.
Meski demikian, Fachmi mengaku masih ada tantangan dalam memberikan edukasi kepada para pekurban terkait biaya operasional sebesar Rp700 ribu per ekor sapi sesuai ketentuan Baznas.
“Ada yang mengira cukup menyerahkan hewan saja. Padahal biaya operasional juga penting agar pelaksanaan kurban tidak membebani fasilitas umum maupun kas masjid. Itu yang terus kita edukasi pelan-pelan” jelasnya.
Sistem pembagian yang tertib pun mendapat respons positif dari masyarakat. Salah seorang warga penerima daging kurban mengaku senang karena pembagian berjalan rapi tanpa antrean
“Alhamdulillah pembagiannya tertib dan panitianya sangat kompak setiap tahun,” ujarnya sambil tersenyum membawa kantong daging kurban.
Sambil menunjukkan kantong dagingnya, ia menambahkan dengan antusias, “Rencananya daging ini mau saya masak bistik dan sop daging buat makan bareng keluarga di rumah,” ungkapnya.
Aktivitas yang sejak pagi berlangsung tanpa henti akhirnya dijeda sejenak. Panitia dan warga berkumpul menikmati makan bersama dengan menu sederhana berupa nasi dan rendang hasil masakan ibu-ibu RT 29.

teks foto Saat Proses pembuatan rendang untuk makan bersama
Suasana akrab terlihat saat mereka duduk lesehan, berbincang santai, lalu kembali melanjutkan pekerjaan hingga seluruh proses pembagian selesai.
Menjelang sore, area penyembelihan perlahan kembali bersih. Seluruh daging telah dibagikan, perlengkapan mulai dirapikan, dan warga pun satu per satu kembali ke rumah masing-masing.
Bagi warga RT 29 Gang Jalur Masjid, Hari Raya Iduladha tahun ini bukan hanya tentang berbagi daging kurban, tetapi juga tentang menjaga tradisi kebersamaan yang terus hidup di tengah lingkungan mereka.(red)






Users Today : 297
Total Users : 435191
Views Today : 754
Total views : 1492098
Who's Online : 1