Publiknews.co Berau – Di usia 60 tahun, ketika banyak orang memilih menikmati masa pensiun, Hernani Astuti justru kembali memulai lembaran baru. Perempuan yang pernah dikenal sebagai perias pengantin legendaris di Kabupaten Berau itu kini aktif mengembangkan UMKM, membuat berbagai produk kerajinan, hingga membagikan ilmunya kepada pelaku usaha.
Baginya, berhenti merias pengantin bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari mimpi-mimpi baru.
“Selama masih diberi kesehatan, saya ingin terus berkarya,” ujarnya.
Perjalanan hidup Hernani tidak pernah mudah. Lahir sebagai anak kedua dari sebelas bersaudara pasangan almarhum Haji Adji Pitro dan almarhumah Hj Noor Sammah, ia tumbuh dalam keluarga seniman. Sang ayah dikenal sebagai pelukis kaca terbalik di Berau pada era 1980-an.
“Kalau bakat melukis memang dari bapak. Hampir semua adik saya juga melukis,” kenangnya.
Semasa sekolah di SMP Negeri 1 Tanjung Redeb, Hernani harus menyeberangi Sungai Segah setiap hari dari Gunung Tabur dengan menumpang perahu warga kemudian berjalan kaki hingga berkilo meter. Pengalaman itu membentuk karakter pekerja keras yang terus melekat hingga sekarang.
Selepas SMA pada 1987, keinginannya melanjutkan pendidikan harus kandas karena menikah dengan Hamdani, pria asal Samarinda. Namun ia tidak menyerah pada keadaan. Tanpa modal, tanpa salon, bahkan tanpa pelanggan, ia mulai belajar tata rias secara otodidak.
Kesempatan pertamanya datang saat merias anak seorang lurah di Labanan. Meski sempat diragukan, hasil riasannya mendapat banyak pujian dan menjadi awal lahirnya Tuti Salon, yang selama hampir tiga dekade dipercaya merias ribuan pengantin di Berau.
Modal usahanya pun diperoleh dengan pengorbanan besar. Hernani menjual seluruh perhiasan emas miliknya untuk membeli gaun pengantin, pelaminan, hingga kursi resepsi, sebagian besar dalam kondisi bekas.
“Yang penting usaha bisa jalan,” katanya.
Di balik kesibukannya, Hernani dikenal sebagai sosok yang mengutamakan kepedulian. Ia kerap menurunkan tarif bagi keluarga kurang mampu agar tetap bisa melangsungkan pernikahan dengan layak.
“Saya ingin mereka tetap bisa menikah dengan baik. Soal rezeki, nanti pasti Allah yang mengatur,” tuturnya.
Sekitar sepuluh tahun lalu, ia menutup salon dan mencoba dunia properti dengan membangun sekitar 80 unit rumah di Sambaliung. Saat pandemi menghentikan proyek tersebut, Hernani kembali bangkit melalui UMKM.
Kini tangannya menghasilkan tas rotan, tas kulit, jilbab lukis, kerajinan kulit kayu, hingga produk berbahan karung goni yang telah dipasarkan sampai Jakarta. Bersama timnya, ia bahkan pernah menyelesaikan 400 tas handmade hanya dalam waktu 21 hari untuk kebutuhan suvenir sebuah ajang olahraga.
“Semuanya dibuat dengan tangan. Kami bekerja siang dan malam,” ujarnya.
Di tengah kesibukan berkarya, Hernani juga setia merawat sang suami yang telah lama sakit. Ia tetap aktif mengikuti pelatihan Dekranasda, menjadi narasumber, sekaligus membimbing pelaku UMKM agar mampu menghasilkan produk yang bernilai.
Berbagai penghargaan telah diraihnya, mulai dari Juara I Tata Rias se-Kalimantan Timur, Juara Busana Kartini, hingga dinobatkan sebagai Ratu Kebaya Kabupaten Berau pada 2004.
Namun, bagi Hernani, pencapaian terbesar bukanlah piala ataupun gelar.
“Yang paling penting saya masih bisa belajar, berkarya, dan bermanfaat bagi orang lain.”
Hingga hari ini, Hernani Astuti membuktikan bahwa mimpi tidak memiliki batas usia. Selama masih ada kemauan untuk belajar dan keberanian untuk memulai, selalu ada ruang untuk melahirkan karya-karya baru.






Users Today : 232
Total Users : 458068
Views Today : 681
Total views : 1529207
Who's Online : 4