Publiknews.co Samarinda — Capaian layanan air bersih sebesar 84 persen oleh Perumdam Tirta Kencana Samarinda masih menyisakan persoalan pemerataan. Sebanyak 16 persen wilayah yang belum terlayani kini menjadi sorotan DPRD Kota Samarinda.
Anggota Komisi I DPRD Kota Samarinda, Ronal Stephen Lonteng, menilai bahwa capaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kualitas pelayanan yang dirasakan masyarakat secara merata.
“Capaian layanan telah mencapai 84 persen, namun kami masih menunggu data rinci mengenai 16 persen wilayah yang belum terlayani,” ujarnya pada Rabu (29/4/2026).
Menurutnya, kejelasan data sangat penting untuk menjawab berbagai keluhan masyarakat yang hingga kini belum mendapatkan akses air bersih secara optimal.
“Data tersebut sangat penting untuk menjawab keluhan masyarakat yang hingga kini belum memperoleh akses air bersih secara optimal,” lanjutnya.
Permasalahan distribusi masih menjadi kendala di sejumlah titik. Di kawasan Jalan Teuku Umar, misalnya, jaringan pipa telah terpasang, namun aliran air belum mengalir secara maksimal.
“Di lapangan masih ditemukan rumah yang hanya mendapatkan aliran udara tanpa air, meskipun jaringan pipa telah terpasang. Hal ini harus segera dibenahi,” tegasnya.
Selain persoalan distribusi, DPRD juga menyoroti beban operasional Perumdam yang meningkat akibat kenaikan harga solar industri yang mendekati Rp30.000 per liter.
Namun demikian, kondisi tersebut dinilai tidak boleh dijadikan alasan untuk membebankan kenaikan tarif kepada masyarakat, terlebih pendapatan perusahaan disebut telah melampaui target.
“Meskipun biaya operasional meningkat akibat kenaikan harga solar industri, kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk menaikkan tarif kepada masyarakat,” katanya.
Ia menekankan bahwa peningkatan pendapatan harus diiringi dengan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Pendapatan perusahaan memang mengalami peningkatan, tetapi yang lebih utama adalah kepuasan masyarakat melalui pelayanan yang terus ditingkatkan,” tambahnya.
Ketimpangan layanan juga masih dirasakan di wilayah pinggiran seperti Sambutan dan Samarinda Seberang yang dinilai belum mendapatkan akses air bersih secara optimal.
“Wilayah pinggiran harus mulai mendapatkan perhatian serius agar tidak tertinggal dalam akses layanan air bersih,” ujarnya.
Selain itu, wacana pemanfaatan bekas lubang tambang sebagai sumber air alternatif di kawasan Bendang-bendang turut mengemuka dan dinilai perlu dikaji lebih lanjut.
DPRD mendorong agar upaya pemerataan layanan tidak hanya berorientasi pada target jangka panjang, tetapi juga diikuti langkah percepatan agar masyarakat dapat segera merasakan manfaatnya.
“Target cakupan 100 persen tidak harus menunggu hingga 2029. Jika dapat dipercepat, tentu akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” pungkasnya.(advdprdsamarinda)
Penulis Ayii Editor Redaksi







Users Today : 406
Total Users : 418201
Views Today : 897
Total views : 1461849
Who's Online : 6