Foto : Erau di Sabintulung Kecamatan Muara Kaman.
PUBLIKNEWS.CO, KUKAR – Jauh sebelum kemeriahan Erau di Tenggarong menarik perhatian publik, sebuah desa tua di pedalaman Kutai Kartanegara telah lebih dulu memulai tradisi tersebut.
Namanya Sabintulung, desa kecil di Kecamatan Muara Kaman, yang hingga kini mempertahankan warisan budaya Erau dalam bentuk paling asli.
Setiap tahun, masyarakat Sabintulung melangsungkan Erau Adat Benua Tuha, sebuah ritual adat yang telah berlangsung sejak 1926.
Pelaksanaan Erau di desa ini menyimpan makna spiritual sebagai bentuk penghormatan terhadap para raja dan leluhur Kerajaan Kutai.
Erau di Sabintulung bukan sekadar hiburan. Ia adalah bentuk komunikasi antara warga dan sejarahnya. Dulu, ini adalah cara rakyat melaporkan hasil bumi kepada sultan. Kini, ia menjadi perayaan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini dengan nilai-nilai budaya yang masih lestari.
Ritual yang berlangsung selama tujuh hari tujuh malam ini menyuguhkan berbagai sajian tradisional, tarian adat, hingga pertunjukan gambus tingkilan. Tidak ada panggung megah atau sorotan media besar, namun nuansa sakral tetap terasa kuat.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo, menyebutkan bahwa Sabintulung memegang peranan penting dalam sejarah perkembangan Erau. Baginya, pusat tradisi sebenarnya bukan di Tenggarong, melainkan berakar dari desa ini.
“Erau Sabintulung berbeda dengan yang digelar di Tenggarong. Di sana hanya meneruskan sebagian dari tradisi. Justru akar sejarahnya ada di Sabintulung,” jelas Puji, Kamis (17/7/2025).
Pemerintah daerah pun mulai menunjukkan kepedulian terhadap pelestarian tradisi di desa tersebut.
Disdikbud Kukar, melalui program kebudayaan, memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan agar tetap terjaga keasliannya.
Fokus utama pelestarian tidak diarahkan untuk memodernisasi, tetapi menjaga agar bentuk asli dari ritual tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Dukungan pemerintah bukan dalam bentuk komersialisasi, melainkan perlindungan budaya.
Menurut Puji, hal yang membedakan Sabintulung dengan Erau Tenggarong adalah fokusnya yang tetap pada budaya lokal, bukan gabungan seni dari berbagai daerah. Masyarakat tetap menampilkan bentuk-bentuk seni tradisional yang turun temurun.
“Kebudayaan yang ditampilkan di Sabintulung biasanya hanya itu-itu saja, seperti tarian dan gambus tingkilan. Tapi justru dari kesederhanaan itu, makna budayanya tetap kuat,” pungkasnya. (Adv)





Users Today : 349
Total Users : 513555
Views Today : 460
Total views : 1625570
Who's Online : 5