Publiknews.co Samarinda – Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Samarinda, Firman Hidayat, mengungkapkan berbagai faktor yang memengaruhi tingkat partisipasi pemilih dalam Pemilihan Wali Kota (Pilwali) dan Pemilihan Gubernur (Pilgub) di Samarinda.
Salah satu faktor utama adalah perbedaan karakteristik antara Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).
Firman menjelaskan bahwa dalam Pileg, pemilih terfokus pada banyaknya calon legislatif yang ada, dengan jumlah kandidat yang sangat besar, sementara dalam Pilkada, perhatian pemilih lebih terkonsentrasi pada sejumlah figur calon kepala daerah.
“Pada Pileg, terdapat sekitar 650 calon legislatif. Jika setiap calon menarik seribu pemilih, itu sudah berdampak signifikan terhadap tingkat partisipasi. Namun, di Pilkada, karena fokus pemilih hanya pada beberapa kandidat saja, tingkat partisipasi cenderung lebih rendah,” ujar Firman di Hotel Haris Samarinda, Minggu, 8 Desember 2024.
Selain itu, Firman juga menyoroti faktor mobilitas tinggi warga Samarinda yang turut memengaruhi partisipasi pemilih.
Banyak warga yang terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) tetapi tidak tinggal lagi di Samarinda, sehingga mereka tidak dapat memberikan suara pada hari pemungutan suara.
“Kami telah mengidentifikasi ada puluhan ribu warga yang ber-KTP Samarinda, tetapi pada saat pemungutan suara, mereka sudah tidak berada di kota ini. Bahkan, H-7 sebelum hari pemungutan suara, mereka sudah tidak ada di Samarinda. Fenomena ini tentu mempengaruhi distribusi formulir undangan memilih (Formulir C),” jelas Firman.
Firman juga menyatakan bahwa meskipun KPU telah berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan partisipasi pemilih melalui sosialisasi dan identifikasi pemilih, tantangan terkait mobilitas warga dan ketergantungan pada komunitas tertentu dalam menarik perhatian pemilih tetap menjadi hambatan.
“Fenomena ini memang cukup signifikan, terutama di kota besar seperti Samarinda. Namun, kami terus berupaya untuk menyelesaikan masalah ini dengan strategi yang lebih baik,” tambahnya.
Firman berharap ke depan, KPU dapat merancang strategi yang lebih efektif, seperti pengelolaan data pemilih yang lebih akurat dan pendekatan yang lebih tepat sasaran untuk menarik perhatian pemilih di perkotaan agar lebih aktif berpartisipasi dalam pemilu.
“Ini merupakan tantangan yang spesifik, terutama di daerah perkotaan seperti Samarinda. Namun, kami tetap optimis dengan berbagai langkah yang telah kami persiapkan,” tutup Firman.(Frd/ADV)







Users Today : 371
Total Users : 440971
Views Today : 584
Total views : 1500610
Who's Online : 2