Foto: Pamong Budaya Ahli Muda Bidang Cagar Budaya Disdikbud Kukar, M. Saidar (Nur/Publiknews)
Publiknews.co, Kutai Kartanegara – Di tengah gempuran budaya modern, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus berupaya menjaga denyut tradisi yang hampir terlupakan.
Salah satunya yakni bedandeng, seni tutur khas Kutai yang kini mulai dihidupkan kembali lewat berbagai kegiatan kebudayaan.
Pamong Budaya Ahli Muda Bidang Cagar Budaya Disdikbud Kukar, M. Saidar, menyebutkan bahwa bedandeng sebagai warisan lisan yang bukan sekadar hiburan.
M. Saidar atau akrab disapa Dery ini menyebutkan bahwa Bedandeng menyimpan pesan moral, petuah kehidupan, hingga ajaran adat yang dulu jadi panduan masyarakat Kutai dalam berperilaku.
“Bedandeng itu sebenarnya bentuk bersyair. Melalui lantunan lembut, pesan disampaikan tentang adat, budaya, dan kehidupan sehari-hari,” ujar Dery saat ditemui di Komplek Kedaton Kutai Kartanegara pada Senin (27/10/2025).
Irama bedandeng, kata Dery, kerap terdengar seperti lagu pengantar tidur pelan, berirama, dan menenangkan. Namun di balik kelembutannya, tersimpan makna yang dalam tentang kehidupan dan penghormatan terhadap tradisi.
“Kalau didengarkan, memang seperti nyanyian menidurkan anak. Tapi sebenarnya di situ ada pesan mendidik, ada nilai-nilai yang menuntun,” ujarnya.
Sayangnya, bedandeng kini kalah populer dibanding seni tarsul yang sudah lebih sering tampil di berbagai panggung maupun kegiatan sekolah.
Oleh Karena itu, Disdikbud Kukar mulai mendorong kebangkitan bedandeng lewat kegiatan Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) tahun 2025 ini agar masyarakat mengenal kembali kekayaan tutur leluhur mereka.
Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi pemajuan kebudayaan daerah sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Oleh karena itu Ia menilai jika pelestarian seni lisan seperti bedandeng penting untuk menanamkan nilai-nilai moral kepada generasi muda.
Rencananya, mulai tahun depan, Disdikbud Kukar akan melakukan sosialisasi bedandeng ke berbagai lapisan masyarakat dari sekolah-sekolah hingga komunitas seni.
Program ini akan melibatkan pelaku budaya lokal yang memahami tradisi tersebut agar proses belajar terasa hidup dan alami.
“Harapannya bukan hanya mengenalkan bentuk seninya, tapi juga nilai yang terkandung di dalamnya. Bedandeng ini bisa jadi media pendidikan karakter yang sangat kuat,” harapnya Dery. (Adv/Nr)






Users Today : 87
Total Users : 519935
Views Today : 138
Total views : 1635662
Who's Online : 7