Foto : Ilustrasi Kelapa Sawit Sebagai Bahan Baku Minyak Merah (Ist)
PublikNews.Co, Kukar – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kembali menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi lokal dengan mendorong pembangunan pabrik minyak merah di Desa Klekat, Kecamatan Kembang Janggut.
Langkah ini lahir dari pengalaman kelangkaan minyak goreng yang sempat terjadi pada 2023 silam. Dari situ, muncul gagasan untuk mengolah hasil sawit rakyat secara mandiri agar tidak lagi bergantung pada pasokan luar. Program ini menjadi bagian dari strategi besar pengembangan desa berbasis potensi lokal yang dikawal langsung oleh Bupati Kukar.
Pelaksana Tugas (Plt) Camat Kembang Janggut, Suhartono, menyebut pabrik ini sebagai salah satu proyek penting yang harus dikawal secara serius di tingkat kecamatan.
“Ini adalah amanah dari Pak Bupati. Kami di kecamatan bertugas memastikan seluruh prosesnya berjalan lancar dan tepat sasaran,” kata Suhartono, saat dikonfirmasi Jum’at (25/4/2025).
Menurutnya, keberadaan pabrik minyak merah tidak sekadar menjawab persoalan distribusi minyak goreng, tetapi juga menghadirkan peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Petani sawit yang sebelumnya hanya menjual tandan buah segar (TBS), kini punya opsi untuk mengolah langsung menjadi produk siap konsumsi.
“Dengan diolah menjadi minyak merah, nilai jualnya naik. Ini bisa membuka peluang kerja, juga memperkuat ekonomi keluarga di desa,” ujarnya.
Suhartono meyakini ketersediaan bahan baku bukanlah hambatan besar. Hampir seluruh kampung di Kecamatan Kembang Janggut memiliki kebun sawit yang dikelola warga. Ini menjadi sumber daya yang sangat mendukung keberlangsungan operasional pabrik.
“Perkebunan sawit rakyat cukup melimpah. Kami optimistis bahan baku aman,” imbuhnya.
Ia juga memastikan bahwa pemerintah kecamatan akan berkoordinasi aktif dengan desa dan dinas terkait agar proses pembangunan berjalan sesuai rencana, termasuk pendampingan teknis dan kesiapan lahan.
Pabrik minyak merah di Klekat ini diharapkan tak hanya jadi fasilitas produksi, tetapi juga simbol kemandirian ekonomi warga desa. Jika berjalan sesuai harapan, model serupa bisa direplikasi di kecamatan lain di Kukar.
“Ini bukan sekadar bangunan, tapi harapan. Untuk pangan, untuk ekonomi, dan masa depan desa,” tutup Suhartono. (Adv)





Users Today : 111
Total Users : 485662
Views Today : 226
Total views : 1572887
Who's Online : 5