Samarinda – Bertahun-tahun hidup berdampingan dengan banjir, kebakaran lahan, hingga berbagai persoalan sosial, warga Kelurahan Mugirejo, Kecamatan Sungai Pinang, kini memiliki kekuatan baru. Puluhan relawan dari berbagai latar belakang resmi melebur dalam satu wadah bernama Relawan Gabungan Mugirejo (RAGAM).
Peluncuran RAGAM berlangsung penuh semangat dengan mengusung tema “Tangguh Bukan Karena Atribut, Apalagi Bayaran”, sebagai penegasan kerja-kerja kemanusiaan dilakukan atas dasar kepedulian dan keikhlasan.
Salah seorang anggota RAGAM, Abdul Salang, menjelaskan nama RAGAM dipilih karena mencerminkan keberagaman organisasi relawan yang selama ini telah ada di Mugirejo namun masih bergerak secara terpisah.
“Di Mugirejo ini banyak relawan, ada Katana, FKPM, Ambulans dan lainnya. Karena kita beragam, maka kita tetap bersatu. Moto kami sederhana, jangan lupa berbuat baik walaupun kadang tidak diterima dengan baik,” ujarnya.
Menurutnya, relawan bukan sekadar orang yang hadir saat bencana terjadi, melainkan mereka yang rela mengorbankan waktu dan tenaga tanpa mengharapkan imbalan.
“Relawan itu lelah, tetapi tidak pernah memusnahkan semangatnya. Kebahagiaan mereka sederhana, melihat orang yang dibantu bisa tersenyum bahagia,” katanya.
Lurah Mugirejo, Dwi Haryani, memberikan apresiasi atas terbentuknya RAGAM. Ia menilai para relawan tersebut tidak hanya bergerak saat banjir, kebakaran, maupun pohon tumbang, tetapi juga aktif membantu berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat.
“Kalau relawan biasanya identik dengan kebencanaan, tetapi RAGAM lebih dari itu. Mereka membantu orang terlantar, menangani ODGJ, bahkan ikut menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Mereka siap bergerak 24 jam,” ungkapnya.
Dwi berharap semakin banyak warga dari 43 RT di Mugirejo yang bergabung sehingga setiap wilayah memiliki perwakilan relawan yang dapat bergerak cepat saat dibutuhkan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Camat Sungai Pinang, Didik Purwanto, menyebut lahirnya RAGAM merupakan bukti kuatnya kepedulian warga Mugirejo terhadap lingkungan mereka sendiri.
Menurutnya, masyarakat setempat tidak hanya menunggu bantuan pemerintah, tetapi memilih membangun kekuatan dari bawah dengan membentuk relawan yang mampu menghadapi berbagai musibah.
“Saya salut. Teman-teman di Mugirejo adalah orang-orang pilihan yang sudah teruji keikhlasan, kesabaran, dan ketangguhannya. Ini bisa menjadi ladang amal ibadah,” ujarnya.
Didik menegaskan keberhasilan sebuah gerakan sosial tidak bisa berdiri sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi pemerintah, masyarakat dan sektor swasta.
Senada, Bhabinkamtibmas Mugirejo Bripka Ahmad Imron mengatakan RAGAM dibentuk bukan untuk menciptakan organisasi baru, melainkan menjadi rumah bersama bagi seluruh relawan yang sudah ada.
Ia menilai keberadaan wadah tersebut akan mempermudah koordinasi dalam menghadapi berbagai persoalan, mulai dari banjir, kebakaran, hingga konflik sosial yang terjadi di masyarakat.
“Tujuan utama kita adalah silaturahmi dan saling menguatkan. Jangan mengejar kuantitas anggota, tetapi kualitasnya. Relawan juga perlu dukungan dan apresiasi agar semangatnya tetap terjaga,” katanya.
Dengan wilayah Mugirejo yang terdiri dari 43 RT dan terus berkembang, keberadaan RAGAM diharapkan menjadi garda terdepan dalam membantu masyarakat. Bukan hanya saat bencana datang, tetapi juga dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial yang muncul di lingkungan sekitar.
Karena bagi mereka, menjadi relawan bukan soal seragam atau penghargaan, melainkan tentang bagaimana tetap hadir ketika orang lain membutuhkan pertolongan.





Users Today : 1146
Total Users : 450374
Views Today : 1409
Total views : 1515411
Who's Online : 1