Foto : Lurah Melayu, Aditya Rakhman.
PUBLIKNEWS.CO, KUKAR – Di tengah keterbatasan anggaran, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, membuktikan bahwa program perbaikan gizi masyarakat tetap bisa dijalankan secara efektif.
Dengan mengandalkan dapur milik PKK, kegiatan pemenuhan gizi balita dan ibu hamil terus berlangsung melalui gotong royong dan sinergi antarinstansi.
Gerakan ini lahir dari kolaborasi antara kelurahan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kukar, serta Puskesmas setempat. Fokus utamanya adalah penyediaan makanan sehat yang disalurkan melalui Posyandu, menyasar kelompok rentan sejak masa kehamilan.
Lurah Melayu, Aditya Rakhman, menegaskan bahwa program ini tidak digerakkan oleh anggaran besar, tetapi oleh kemauan besar. Peran kader Posyandu menjadi krusial, mulai dari mendata keluarga sasaran hingga membagikan makanan yang telah disiapkan sesuai panduan gizi dari tenaga kesehatan.
“Kami bisa berjalan karena dukungan warga dan semangat kader yang luar biasa. Tanpa mereka, program ini tidak akan hidup,” ujarnya pada Publiknews.co, pada Jumat (27/6/2025).
Kader Posyandu bukan orang asing bagi warga, dan justru karena itu pendekatannya terasa lebih akrab. Dengan keterlibatan langsung dalam komunitas, mereka mampu menyampaikan edukasi gizi secara sederhana namun tepat sasaran.
“Pendekatan dari orang yang dikenal itu jauh lebih mudah diterima. Dan itu jadi kekuatan kami di lapangan,” lanjut Aditya.
Sementara itu, Camat Tenggarong, Sukono, menilai upaya yang dilakukan warga Kelurahan Melayu sebagai contoh nyata pemberdayaan berbasis solidaritas sosial. Di tengah keterbatasan dana, mereka tetap hadir dengan solusi lokal yang menyentuh langsung kebutuhan warga.
“Gerakan ini muncul dari bawah dan benar-benar menyasar inti persoalan. Kami sangat mengapresiasi,” ungkapnya.
Model seperti ini, menurut Sukono, bisa direplikasi oleh kelurahan lain yang menghadapi tantangan serupa. Gotong royong dinilainya sebagai kekuatan yang tak bisa digantikan oleh skema anggaran semata.
Di balik dapur PKK yang sederhana, tersimpan semangat perubahan yang menyentuh banyak lini. Dari kesehatan ibu dan anak, hingga penguatan kohesi sosial di lingkungan sekitar.
“Yang dibangun bukan cuma tubuh yang sehat, tapi rasa saling peduli sebagai satu keluarga besar,” pungkas Sukono. (Adv)






Users Today : 202
Total Users : 434654
Views Today : 328
Total views : 1490702
Who's Online : 7