Publiknews.co Samarinda — Sekretaris Komisi I DPRD Provinsi Kalimantan Timur, Salehuddin, menegaskan bahwa pembangunan wahana water boom di kawasan wisata Pulau Kumala, Kutai Kartanegara (Kukar), harus menjadi titik balik dalam menghidupkan kembali nilai investasi besar yang telah digelontorkan pada masa lalu.
Pernyataan ini disampaikannya merespons progres pembangunan yang kini diklaim telah mencapai 70 persen dan ditargetkan rampung akhir tahun 2025.
Salehuddin mengaku menyayangkan keterlambatan realisasi revitalisasi kawasan tersebut, meskipun tetap mengapresiasi langkah yang telah berjalan sejauh ini.
“Memang kita menyayangkan keterlambatan proyek ini. Namun demikian, saya tetap beranggapan lebih baik terlambat daripada tidak dilakukan sama sekali,”kata Salehuddin, Senin (26/6/2025).
Ia mengingatkan bahwa Pulau Kumala pernah menyerap investasi hingga sekitar Rp400 miliar pada masa kepemimpinan Bupati Kukar almarhum Syaukani Hasan Rais.
Sayangnya, investasi sebesar itu belum menunjukkan imbal hasil yang sebanding dalam konteks pendapatan daerah maupun dampak ekonomi lokal.
“Kalau kita lihat dari sejarahnya, nilai investasi di Pulau Kumala ini sangat besar, mencapai hampir Rp400 miliar. Tetapi hingga saat ini, kalau berbicara soal pengembalian investasi, belum tampak secara nyata. Ini yang menjadi alasan perlunya terobosan dan strategi baru,”ujarnya.
Salehuddin menyebut bahwa di masa lalu pernah ada inisiasi kerja sama dengan pihak swasta, seperti Grand LT milik pengusaha Nizal. Namun inisiatif tersebut tidak berkembang karena kurangnya dukungan dan fasilitasi dari pemerintah saat itu.
Menurutnya, kehadiran wahana water boom saat ini diharapkan bisa menjadi daya tarik awal untuk menggerakkan kembali sektor pariwisata Kukar, setidaknya dari kalangan wisatawan lokal.
“Potensi ini jangan disia-siakan. Kehadiran wahana air seperti water boom setidaknya bisa menarik kembali minat pengunjung. Lebih dari itu, wahana-wahana lain yang sebelumnya terbengkalai juga perlu dibenahi agar investasi besar ini tidak menjadi sia-sia,”tegasnya.
Lebih lanjut, Salehuddin mendorong agar optimalisasi Pulau Kumala diarahkan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Ia bahkan mengusulkan adanya pola kemitraan strategis dengan pengelola wisata profesional, seperti yang pernah dilakukan oleh pengelola Jatim Park, yang disebutnya sempat menyatakan ketertarikan.
“Investasi besar yang sudah dilakukan di era almarhum Pak Syaukani harus dimaksimalkan. Tidak masalah dikelola oleh swasta sepanjang ada kerja sama yang jelas dan dapat menguntungkan daerah. Yang terpenting, kontribusinya terhadap PAD harus nyata,”katanya.
Ia juga menekankan pentingnya perawatan aset dan pengelolaan lingkungan sekitar, termasuk pembinaan usaha mikro kecil menengah (UMKM) oleh dinas terkait agar bisa mendukung aktivitas wisata.
Ia mengkritisi buruknya pemeliharaan fasilitas publik di masa lalu yang menyebabkan banyak aset mangkrak, seperti fasilitas jembatan yang dipindahkan ke Taman Tanjung serta bangunan kandang burung bernilai miliaran rupiah yang tidak terpakai.
“Pembangunan harus diiringi dengan sistem pengamanan dan pemeliharaan yang terencana. Jangan sampai kita mengulangi kesalahan lama, di mana aset daerah menjadi tidak terurus dan kehilangan fungsinya. Pulau Kumala harus hidup kembali, dan benar-benar memberi dampak ekonomi bagi masyarakat,”tandasnya.
Penulis Nisnun Editor Redaksi PN







Users Today : 417
Total Users : 434869
Views Today : 855
Total views : 1491229
Who's Online : 1