Publiknews.co Samarinda – Menanggapi maraknya tren generasi muda yang memilih profesi sebagai influencer atau kreator digital, Ketua Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, Baba, menyampaikan pandangannya.
Ia menyebut, tren tersebut mencerminkan semangat kreativitas dan kemandirian anak muda, tetapi menegaskan bahwa pendidikan tetap harus menjadi prioritas utama.
Menurut Baba, perkembangan teknologi informasi telah membuka banyak jalur karier baru yang menarik minat pelajar dan mahasiswa.
Platform seperti TikTok, Instagram, hingga YouTube kini menjadi sarana yang menjanjikan untuk berkarya dan memperoleh penghasilan.
“Saya memahami mengapa banyak anak muda tertarik menjadi influencer. Itu menandakan mereka ingin mandiri secara ekonomi. Namun, saya selalu tekankan bahwa pendidikan tidak boleh dikesampingkan karena menjadi landasan utama dalam membangun masa depan yang kokoh,”ucap Baba, Jumat (27/6/2025).
Ia menyoroti bahwa sebagian kalangan pelajar mulai menganggap jalur pendidikan formal sebagai beban yang tidak sejalan dengan kebutuhan zaman.
Fenomena ini, menurutnya, dipengaruhi oleh faktor ekonomi keluarga, minimnya peluang kerja formal, hingga gaya hidup konsumtif yang mendorong keinginan untuk cepat memperoleh penghasilan.
“Popularitas di media sosial bisa datang secara instan, namun dapat pula menghilang seketika. Tanpa bekal pendidikan dan keterampilan yang memadai, akan sulit bagi seseorang untuk bertahan dalam dunia yang sangat kompetitif ini,”tegas politisi dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut.
Lebih lanjut, Baba membagikan kisah pribadinya tentang bagaimana ia harus bekerja sambil bersekolah demi tetap melanjutkan pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi.
Ia menyampaikan bahwa pengalaman tersebut justru menjadi modal penting dalam perjalanan hidupnya hingga kini.
“Saya berasal dari keluarga sederhana. Untuk tetap sekolah, saya harus bekerja. Meski sulit, saya tidak pernah berhenti belajar. Pengalaman itu membentuk karakter saya dan mengantar saya hingga ke titik ini,”kenangnya.
Baba menyatakan tidak mempermasalahkan jika anak muda ingin bekerja terlebih dahulu, termasuk sebagai influencer.
Ia justru mendukung jika aktivitas tersebut disertai komitmen untuk tetap melanjutkan pendidikan, baik secara bertahap maupun sambil menjalani profesi digital.
“Bekerja atau menjadi influencer tidak masalah, asal jangan melupakan pendidikan. Sekarang banyak perguruan tinggi yang sudah menyediakan kuliah daring, sehingga bisa tetap belajar meskipun sambil bekerja,”tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam mengarahkan anak menghadapi era digital.
Menurutnya, pendekatan yang bersifat mendampingi dan memberikan pemahaman lebih efektif ketimbang pelarangan yang bersifat kaku.
“Orang tua harus menjadi mitra dialog yang terbuka bagi anak. Beri ruang diskusi agar mereka memahami bahwa dunia digital menjanjikan peluang, namun tetap harus dibarengi dengan pendidikan dan akhlak yang baik,”jelas Baba.
Sebagai penutup, Baba mendorong agar lembaga pendidikan di Kalimantan Timur turut menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Ia menganjurkan agar materi literasi digital, etika bermedia, serta kewirausahaan diperkuat dalam kurikulum pendidikan.
“Perubahan zaman tidak bisa dihindari. Maka dunia pendidikan juga harus adaptif. Kita harus membekali anak-anak dengan kompetensi digital, sekaligus menanamkan etika, moral, dan pemahaman akan dunia nyata. Ini merupakan tanggung jawab bersama,”pungkasnya.
Penulis Nisnun Editor Redaksi PN






Users Today : 225
Total Users : 434677
Views Today : 401
Total views : 1490775
Who's Online : 2