Foto: Dewan Juri Lomba Baca Tarsul, Mbok Fitri, Busu Ipul, dan Ibu Mariam (Nur/publiknews)
Publiknews.co, Kutai Kartanegara – Alunan syair Tarsul terdengar syahdu dari panggung utama di halaman Stadion Rondong Demang, Tenggarong, Senin (22/9/2025).
Lomba seni tutur khas masyarakat Kutai itu menjadi pembuka rangkaian Lomba Seni Budaya Kutai dalam Festival Erau 2025.
Kegiatan yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara ini berlangsung hingga 27 September.
Selain Tarsul, agenda lain yang menanti penonton yaitu lomba menyanyi lagu daerah Kutai, Tingkilan Tradisi, hingga Jepen Kreasi. Malam penutupan dijadwalkan pada 28 September dengan penyerahan hadiah di panggung utama.
Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Festival Erau 2025, Erwin Khadafi Cahyadi, mengatakan lomba ini menjadi bagian penting dalam menjaga tradisi lokal.
“Hari ini kita mulai dengan Lomba Baca Tarsul Kutai. Besok akan berlanjut ke cabang lainnya. Antusiasme peserta sangat tinggi sejak pendaftaran dibuka,” ujarnya.
Untuk menjaga kualitas, panitia menghadirkan juri yang memang ahli di bidang seni budaya Kutai.
“Hari ini, Lomba Baca Tarsul dinilai oleh Mbok Fitri, Busu Ipul, dan Ibu Mariam. Mereka semua berpengalaman dan sebelumnya juga pernah menjadi juri Festival Tunas Bahasa Ibu,” terang Erwin.
Tarsul sendiri merupakan kesenian tradisional berupa syair berbahasa Kutai yang disampaikan dengan cara dilagukan. Dalam lomba, peserta dinilai berdasarkan lima aspek yakni artikulasi, teknik, penghayatan, etika penampilan, serta keaslian penggunaan bahasa Kutai.
Meski siang itu cuaca cukup terik, para peserta tetap tampil penuh semangat. Beberapa bahkan rela menunggu giliran sambil berlatih di belakang panggung.
“Meskipun panas, mereka tidak kehilangan energi. Dari awal pendaftaran kuota sudah penuh, bahkan banyak yang masih ingin ikut,” kata Erwin.
Suasana di sekitar panggung tampak hidup. Penonton memberi dukungan dengan tepuk tangan dan sorakan semangat, membuat peserta lebih percaya diri. Bagi sebagian anak muda, kesempatan tampil di panggung Erau menjadi pengalaman berharga sekaligus kebanggaan tersendiri.
Lebih lanjut, kegiatan ini dimaknai sebagai upaya melestarikan kebudayaan asli Kutai agar tidak tergerus zaman.
“Pesan dan harapan dari lomba ini sederhana, agar seni dan budaya Kutai terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tutur Erwin. (Adv/Nr)







Users Today : 415
Total Users : 432706
Views Today : 697
Total views : 1487352
Who's Online : 2