Foto: Plt Kepala Bidang SMP Disdikbud Kukar, Emy Rosana Saleh (Nur/Publiknews)
Publiknews.co, Kutai Kartanegara – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus mendorong penguatan sekolah inklusi di tingkat SMP.
Melalui bidang SMP, digelar pelatihan manajemen pendidikan inklusif yang berlangsung sejak29 hingga 30 September di Ballroom hotel Grand Fatma Tenggarong.
Plt Kepala Bidang SMP Disdikbud Kukar, Emy Rosana Saleh, menjelaskan kegiatan ini diikuti sekitar 40 peserta yang mewakili 19 sekolah. Mereka datang dari berbagai kecamatan, mulai dari Tabang, Kenohan, Muara Muntai, hingga Tenggarong.
Dari jumlah tersebut, terdapat 3 sekolah swasta dan 16 sekolah negeri.
Emy menuturkan, pelatihan ini menjadi langkah penting untuk meningkatkan kapasitas guru dalam menghadapi dinamika pendidikan inklusi.
Dalam hal tersebut pihak sekolah dituntut mampu membuka ruang yang sama bagi anak-anak berkebutuhan khusus agar mereka bisa belajar bersama siswa reguler.
Sejak awal, para peserta sudah diperkenalkan dengan istilah Guru Pembimbing Khusus (GPK). Ke depan, diharapkan guru-guru yang mengikuti pelatihan ini bisa mendapatkan bekal untuk menjalankan peran tersebut di sekolah masing-masing.
“Dengan adanya GPK, anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah umum bisa lebih terlayani dengan baik. Inilah tujuan utama yang ingin kita capai,” ujar Emy.
Untuk memperkuat materi, Disdikbud menghadirkan narasumber berpengalaman, yakni Kepala Unit Layanan Disabilitas (ULD) Samarinda, Gofur, dan Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Samarinda, Margono. Keduanya dinilai memiliki pengalaman panjang dalam pendidikan khusus dan pendidikan inklusi.
Kehadiran narasumber tersebut diharapkan mampu membuka wawasan peserta mengenai strategi, tantangan, sekaligus solusi praktis dalam mengelola sekolah inklusif. Selain teori, para guru juga akan diajak memahami praktik nyata yang selama ini sudah diterapkan di sekolah-sekolah inklusi.
Terakhir Emy juga memastikan, pendidikan inklusi tidak hanya membutuhkan regulasi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia.
Oleh sebab itu, pelatihan ini dipandang penting sebagai langkah awal mencetak guru yang mampu mengelola keragaman di kelas.
“Anak-anak dengan kebutuhan khusus berhak atas pendidikan yang sama. Karena itu, sekolah dan guru harus siap menjadi bagian dari proses itu. Semoga pelatihan ini bisa menambah kepercayaan diri para peserta untuk memberikan layanan terbaik,” pungkasnya. (Adv/Nr)







Users Today : 554
Total Users : 490607
Views Today : 811
Total views : 1582197
Who's Online : 2