Foto: Camat Tabang, Rakhmadani Hidayat (Nur/Publiknews)
Publiknews.co, Kutai Kartanegara – Pemerintah Kecamatan Tabang terus berupaya menata sektor pertanian agar lebih tertib secara administrasi dan produktif.
Camat Tabang, Rakhmadani Hidayat, mengatakan bahwa pembenahan data kelompok tani dan lahan pertanian masih dilakukan secara bertahap untuk memastikan keakuratan informasi di lapangan.
“Dari sisi administrasi kelompok dan lahan, saat ini masih terus dibenahi agar data pertanian di wilayah Tabang lebih tertata dan akurat,” ujarnya, Selasa (7/10/2025).
Ia menjelaskan bahwa wilayah Tabang memiliki karakteristik unik. Sebagian besar area yang berdekatan dengan permukiman justru termasuk dalam kawasan Areal Penggunaan Lain (APL).
Kondisi ini membuat pengelolaan lahan pertanian di Tabang memiliki dinamika tersendiri dibandingkan kecamatan lain di Kutai Kartanegara.
Masyarakat Tabang hingga kini masih mempertahankan kearifan lokal dalam bercocok tanam, terutama tradisi menanam padi gunung. Tradisi ini dilakukan turun-temurun dengan sistem tanam yang mengikuti musim dan kondisi alam.
“Beberapa waktu lalu kami berkunjung ke Desa Sidomulyo, di sana ada dua kelompok tani yang sedang mengelola sekitar empat hingga lima hektare lahan padi gunung,” terang Rakhmadani.
Berbeda dengan padi sawah, padi gunung tidak memiliki jadwal tanam tetap. Waktu tanam ditentukan berdasarkan siklus hama burung.
Jika pada suatu periode populasi hama meningkat, masyarakat akan menunda penanaman untuk menghindari risiko gagal panen. Dalam satu tahun, penanaman biasanya hanya dilakukan sekali.
Meski hanya ditanam setahun sekali, padi gunung tetap memiliki nilai penting bagi masyarakat Tabang, baik dari sisi ekonomi maupun budaya.
Rakhmadani menilai bahwa bila dikelola dengan baik, padi gunung berpotensi menjadi komoditas unggulan daerah yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani lokal.
Namun demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi di lapangan. Selain faktor cuaca dan serangan hama, kondisi geografis Tabang yang didominasi perbukitan membuat sebagian lahan rawan longsor. Hal ini menuntut perhatian dan dukungan lebih dari pemerintah daerah.
Masyarakat pun juga berharap agar pembinaan terhadap kelompok tani, pendampingan teknis, serta peningkatan infrastruktur pertanian terus dilakukan secara berkelanjutan.
“Dengan dukungan yang tepat, kami yakin tradisi ini tidak hanya bisa dilestarikan, tetapi juga dikembangkan menjadi sektor unggulan yang memberi dampak nyata bagi perekonomian masyarakat,” tutup Rakhmadani. (Adv/Nr)







Users Today : 390
Total Users : 520238
Views Today : 640
Total views : 1636164
Who's Online : 6