Publiknews.co Samarinda – Menjelang kontestasi politik yang semakin dekat, kekhawatiran terhadap praktik politik transaksional kembali mencuat.
Legislator Kalimantan Timur, Agusriansyah Ridwan, secara tegas menyatakan bahwa kebiasaan memilih pemimpin berdasarkan iming-iming materi merupakan ancaman nyata terhadap kualitas demokrasi dan masa depan bangsa.
Menurut Anggota Komisi IV DPRD Kaltim itu, sistem demokrasi hanya akan berjalan sehat apabila masyarakat terlibat secara sadar dan kritis dalam menentukan arah kepemimpinan, bukan karena imbalan sesaat.
Ia menilai bahwa politik uang bukan hanya mencederai etika demokrasi, tetapi juga berpotensi melahirkan kepemimpinan yang lemah dan tidak berpihak kepada rakyat.
“Jika sejak awal prosesnya didasarkan pada uang, maka kepemimpinan yang lahir pun tak akan membawa perubahan berarti. Kita butuh pemimpin yang teruji kualitasnya, bukan yang membeli suara rakyat,”ungkapnya pada Selasa (8/7/2025).
Agusriansyah mengingatkan bahwa integritas seharusnya menjadi syarat utama dalam memilih pemimpin.
Ia menegaskan, pejabat publik idealnya tumbuh dari kepercayaan rakyat karena rekam jejak dan kompetensinya, bukan karena kekuatan logistik semata.
Sayangnya, praktik transaksional masih sering ditemui di banyak daerah, terutama menjelang pemilu.
Ia pun mengajak generasi muda, khususnya kalangan mahasiswa, untuk menjadi garda terdepan dalam membangun kesadaran politik yang sehat.
Menurutnya, anak muda memegang peran penting dalam merawat demokrasi agar tidak terjebak dalam praktik pragmatis yang justru menghambat kemajuan.
“Anak muda harus berani menolak politik uang. Demokrasi tidak boleh jadi komoditas. Masa depan kita terlalu berharga untuk ditukar dengan amplop,”ucapnya.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi pentingnya reformasi budaya politik di tingkat akar rumput.
Ia menekankan, kesalahan dalam proses pemilihan akan berdampak panjang pada kebijakan publik dan arah pembangunan suatu wilayah.
Dengan meningkatnya intensitas politik di tahun-tahun pemilu, Agusriansyah berharap masyarakat tidak terjebak dalam euforia sesaat dan mulai mempertimbangkan rekam jejak serta visi misi calon pemimpin secara kritis.
“Perubahan sejati hanya mungkin terjadi bila rakyat tidak menjual suaranya. Kita tidak sedang memilih penguasa, tapi pelayan publik. Dan itu butuh moral, bukan modal semata,”tutupnya.
Penulis Nisnun Editor Redaksi








Users Today : 192
Total Users : 450627
Views Today : 514
Total views : 1516096
Who's Online : 7