Foto: Kepala Disdik Kukar, Thauhid Afrilian Noor berdama Plt. Sekretaris Disdikbud Kukar, Joko Sampurno.
PUBLIKNEWS.CO, KUKAR – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar) terus berupaya memperkuat pelestarian budaya lokal melalui dunia pendidikan.
Salah satunya dengan mendorong penyusunan silabus muatan lokal (mulok) Bahasa Kutai untuk sekolah dasar.
Langkah ini diawali dengan pelaksanaan bimbingan teknis (bimtek) yang digelar di Hotel Grand Fatma, Tenggarong yang juga turut diikuti para guru-guru dari berbagai kecamatan.
Kepala Disdikbud Kukar, Thauhid Afrilian Noor menegaskan pentingnya silabus sebagai pegangan utama dalam proses pembelajaran. Menurutnya, pembelajaran tidak bisa berjalan maksimal tanpa panduan yang jelas.
“Kalau guru tidak memahami silabus, proses belajar bisa kehilangan arah. Lebih parah lagi kalau budaya kita hilang karena tidak pernah diajarkan,” ujar Thauhid pada Publiknews.co, usai membuka bimtek.
Penyusunan silabus Bahasa Kutai disebutnya cukup menantang, sebab bahasa ini memiliki banyak dialek yang berbeda di tiap daerah. Keragaman ini justru menjadi kekayaan budaya yang harus dijaga.
“Bahasa Kutai itu tidak tunggal. Dialek di Sebulu berbeda dengan di Kenohan, begitu juga di Tenggarong. Maka harus ada ahli bahasa yang turun agar materi tetap akurat dan mewakili keragaman lokal,” jelasnya.
Tak hanya pada konten, Thauhid juga menekankan pentingnya struktur silabus yang disesuaikan dengan jenjang kelas. Materi untuk kelas satu tentu tidak bisa disamakan dengan kelas lima atau enam.
“Kelas berapa, susunannya bagaimana, itu harus jelas. Materi tidak bisa sembarangan, harus urut dan sesuai tahap perkembangan anak,” tambahnya.
Sebagai bagian dari kebijakan pelestarian budaya, Disdikbud Kukar juga menyiapkan buku ajar Bahasa Kutai. Buku ini akan dicetak dan dibagikan secara gratis ke sekolah-sekolah.
“Kalau sampai ada yang jual beli buku itu, kami akan tindak. Ini murni program pemerintah, tidak boleh ada pungutan,” tegas Thauhid.
Kebijakan ini merupakan upaya untuk menempatkan Bahasa Kutai sejajar dengan bahasa asing lain seperti Bahasa Inggris, yang juga masuk dalam muatan lokal. Harapannya, siswa Kukar tumbuh dengan identitas budaya yang kuat.
Terakhir Ia juga menegaskan bahwa kegiatan bimtek bukan sekadar pelatihan teknis, tapi menjadi bagian dari membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga warisan daerah.
“Guru harus jadi ujung tombak pelestarian bahasa. Kalau bukan mereka, siapa lagi,” pungkasnya. (Adv)





Users Today : 187
Total Users : 512432
Views Today : 293
Total views : 1621754
Who's Online : 4