Publiknews.co Samarinda – Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi, kembali mengingatkan pentingnya peran orang tua, terutama ayah, dalam proses pembentukan karakter anak. Ia menilai keterlibatan keluarga sangat menentukan arah tumbuh kembang anak, baik di lingkungan rumah maupun di dunia pendidikan.
Ismail menuturkan, anak yang tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang cukup dari orang tuanya cenderung mencari bentuk penerimaan lain di luar rumah.
Menurutnya, hal ini bisa menjadi risiko jika lingkungan pergaulan yang ditemui anak ternyata tidak memberikan pengaruh positif.
“Anak yang merasa kehilangan kasih sayang dari keluarganya, pasti akan mencari perhatian di luar. Jika lingkungan yang ditemuinya baik, tentu menjadi hal yang baik pula. Namun, jika sebaliknya, potensi terbentuknya karakter yang menyimpang sangat besar,” ungkapnya, Sabtu (19/7/2025).
Ia juga menekankan pentingnya kehadiran orang tua dalam kehidupan anak bukan sebatas hadir secara fisik, tetapi juga terlibat dalam interaksi yang penuh makna.
Ismail mengkritisi fenomena orang tua, terutama ayah, yang hanya menjadi ‘penonton’ dalam proses pertumbuhan anak karena terlalu sibuk atau kurang memahami pentingnya peran pengasuhan.
Menurutnya, keluarga merupakan pondasi utama dalam membentuk karakter dan kepribadian anak.
Ketika orang tua lalai dalam menjalankan perannya, risiko penyimpangan perilaku pada anak akan semakin besar.
Karena itu, Ismail mendorong sekolah-sekolah di Samarinda untuk lebih aktif mengadakan program parenting, sebagai sarana mengedukasi orang tua akan pentingnya peran mereka dalam mendampingi proses pendidikan anak.
“Berulang kali saya sampaikan kepada kepala sekolah dan para guru, penting sekali mengadakan sesi parenting. Ini agar para orang tua sadar bahwa tanggung jawab pendidikan bukan hanya di pundak sekolah, tetapi justru lebih banyak berada di lingkungan keluarga,” ujarnya.
Ismail menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan akhlak, karakter, dan keteladanan, yang semestinya berawal dari rumah.
Ia menautkan pentingnya pembinaan karakter ini dengan visi Indonesia Emas 2045, di mana generasi muda diharapkan siap bersaing, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara moral dan mentalitas.
“Bila anak kehilangan perhatian dari keluarga, lalu mencari pelarian di luar dan bertemu dengan lingkungan yang salah, maka potensi mereka terjerumus pada perilaku menyimpang sangat besar. Ini yang harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen, baik pemerintah, lembaga pendidikan, maupun masyarakat luas, untuk bersinergi menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
“Anak bukan hanya tanggung jawab orang tua, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama kita semua. Jika kita ingin mewujudkan generasi emas 2045 yang unggul, maka proses pembentukan karakter mereka harus dimulai sejak dini,” tutupnya.
Penulis Nisnun Editor Redaksi







Users Today : 383
Total Users : 514414
Views Today : 492
Total views : 1626628
Who's Online : 1