Publiknews.co Samarinda – Fenomena anak-anak usia sekolah dasar yang leluasa menggunakan gawai tanpa pengawasan orang dewasa menjadi perhatian serius Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi.
Ia menilai, kebebasan tersebut berpotensi memicu perilaku menyimpang di kalangan anak-anak.
Ismail menuturkan, banyak anak-anak saat ini mengakses berbagai jenis konten tanpa kendali. Sayangnya, para orang tua sering kali abai terhadap apa yang dikonsumsi anak mereka di layar ponsel.
“Anak-anak hanya terus menggulirkan layar tanpa arahan. Sementara itu, orang tua tidak memastikan apakah konten yang dilihat bersifat positif atau justru negatif,” ujarnya, Sabtu (19/7/2025).
Ia menekankan, anak-anak sejatinya belum memiliki kemampuan untuk menyaring informasi yang mereka terima.
Konten yang berseliweran di dunia maya mudah sekali terserap tanpa ada pendampingan, baik dari orang tua maupun lingkungan sekitar.
“Informasi yang masuk kepada anak-anak semakin banyak, namun mereka belum mampu memilah mana yang layak dikonsumsi. Sementara kehadiran orang dewasa sebagai pendamping sering kali tidak ada,” jelasnya.
Menurut Ismail, usia yang dianggap ideal bagi anak untuk memiliki telepon genggam adalah 14 tahun, ketika mereka mulai mampu berpikir lebih kritis.
Ia juga menyinggung maraknya perilaku menyimpang, termasuk penyimpangan seksual, yang menurutnya bisa saja berawal dari konsumsi konten negatif.
“Ketika anak terpapar konten yang tidak pantas, timbul keinginan untuk meniru hal-hal yang mereka lihat,” tambahnya.
Ismail turut mengkritisi sikap orang tua yang memberikan akses gawai begitu saja kepada anak, bahkan ada yang mempermudah akses dengan mengaktifkan sidik jari si anak sebagai kunci pengaman.
“Yang memberikan ponsel adalah orang tua sendiri. Bahkan ada yang menggunakan sidik jari anak sebagai pengaman, sehingga orang tua sendiri tidak bisa mengontrol isi perangkat itu,” ungkapnya.
Namun, ia menegaskan, pernyataan tersebut bukan untuk menyalahkan para orang tua, melainkan sebagai pengingat akan pentingnya peran mereka dalam mengawasi serta mendidik anak di era digital.
Ismail juga memberikan apresiasi kepada para guru yang sudah mulai berupaya menyaring materi pembelajaran dan tayangan edukatif di sekolah.
Ia berharap, pengawasan dari lingkungan pendidikan dapat berjalan beriringan dengan pendampingan di rumah.
“Guru bisa menjadi pendamping dalam memilih tontonan maupun bacaan yang bermanfaat. Namun, tetap harus ada keterlibatan dari orang tua,” tuturnya.
Sebagai bentuk solusi, ia mendorong agar pihak sekolah aktif menggelar kegiatan parenting guna membangun komunikasi yang positif antara pihak sekolah dan orang tua demi masa depan anak.
“Sekolah sebaiknya rutin menyelenggarakan kegiatan parenting, agar terjalin sinergi antara pendidikan di sekolah dan di rumah,” pungkasnya.
Dengan adanya kolaborasi yang kuat antara orang tua dan sekolah, Ismail yakin, cita-cita untuk membentuk generasi emas Indonesia akan lebih mudah terwujud.
Penulis Nisnun Editor Redaksi







Users Today : 383
Total Users : 514414
Views Today : 491
Total views : 1626627
Who's Online : 1