Publiknews.co Samarinda — Kondisi Pasar Pagi Samarinda kembali menjadi sorotan. Di tengah bangunan baru yang telah berdiri megah dengan fasilitas yang relatif lengkap, sejumlah pedagang mengaku masih kesulitan mendapatkan pembeli. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa fungsi pasar sebagai pusat perputaran ekonomi masyarakat belum berjalan optimal.
Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, menilai persoalan yang terjadi di Pasar Pagi tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur fisik, melainkan juga menyangkut efektivitas penataan dan pengelolaan aktivitas perdagangan di dalamnya. Menurutnya, berbagai keluhan yang disampaikan pedagang menunjukkan masih adanya persoalan mendasar yang perlu segera dievaluasi.
Ia mengungkapkan, banyak pedagang mengeluhkan minimnya kunjungan pembeli sejak menempati kios baru. Bahkan, terdapat pedagang yang mengaku hanya memperoleh sedikit transaksi dalam kurun waktu yang cukup lama. Kondisi tersebut membuat sebagian pelaku usaha mengalami tekanan ekonomi karena pemasukan yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya operasional yang harus ditanggung.
“Memang sangat miris bahwa pasar semegah ini ternyata pedagangnya tidak mendapat manfaat apa-apa secara ekonomis,” ujar Iswandi pada Kamis (6/8/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi indikator bahwa keberhasilan pembangunan pasar tidak cukup diukur dari aspek fisik semata. Aktivitas perdagangan yang hidup dan mampu mendukung keberlangsungan usaha pedagang harus menjadi ukuran utama keberhasilan revitalisasi pasar.
Selain persoalan sepinya pembeli, DPRD juga menerima berbagai laporan terkait masih banyaknya kios yang belum beroperasi secara maksimal. Setelah ditelusuri, salah satu penyebabnya adalah adanya pedagang yang memiliki lebih dari satu kios di lokasi berbeda sehingga kesulitan mengelola seluruh tempat usahanya secara bersamaan.
Di sisi lain, penempatan kios yang dinilai kurang strategis juga disebut menjadi faktor yang memengaruhi tingkat kunjungan pembeli. Pedagang yang berada di area belakang atau jalur yang jarang dilalui masyarakat mengaku lebih sulit menarik konsumen dibandingkan mereka yang berada di lokasi yang lebih ramai.
“Ada yang punya dua sampai tiga kios tetapi lokasinya terpisah-pisah, sementara satu kios saja belum tentu menghasilkan,” katanya.
Melihat kondisi tersebut, Iswandi menilai perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola Pasar Pagi. Ia menegaskan bahwa persoalan yang muncul tidak bisa diselesaikan oleh satu instansi saja karena menyangkut berbagai aspek, mulai dari penataan pedagang, aksesibilitas, hingga kenyamanan bangunan.
Komisi II DPRD Samarinda pun mendorong adanya langkah kolaboratif lintas organisasi perangkat daerah (OPD) untuk merumuskan solusi yang lebih komprehensif. Evaluasi dinilai penting agar pasar yang telah dibangun dengan anggaran besar benar-benar mampu menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat.
“Jangan sampai pasar ini terlihat bagus secara fisik dan estetika, tetapi fungsi ekonominya belum dirasakan oleh para pedagang,” tegasnya.
Ia menambahkan, berbagai persoalan yang berkembang saat ini perlu dipetakan secara menyeluruh agar solusi yang dihasilkan tidak bersifat parsial. Menurutnya, fokus utama yang harus dicapai adalah mengembalikan daya tarik Pasar Pagi sehingga aktivitas jual beli dapat kembali tumbuh dan memberikan manfaat bagi para pedagang maupun masyarakat.
“Harus ada solusi bersama dan melibatkan semua pihak terkait. Yang paling penting sekarang adalah bagaimana pasar ini benar-benar hidup dan menjadi pusat ekonomi masyarakat,” pungkasnya.(advdprdsamarinda)








Users Today : 146
Total Users : 478633
Views Today : 153
Total views : 1562893
Who's Online : 1