Ket Foto: Anggota Komisi III DPRD Samarinda, M. Andriansyah.
Publiknews.co Samarinda – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Kota Samarinda mendapat dukungan dari DPRD sebagai upaya memperkuat pengelolaan sampah perkotaan. Namun, dewan mengingatkan agar kehadiran fasilitas baru tersebut tidak membuat sarana yang telah lebih dahulu diadakan, termasuk 10 unit insinerator, kehilangan fungsi dan manfaatnya.
Anggota Komisi III DPRD Samarinda, M. Andriansyah, mengatakan pengembangan sistem pengolahan sampah perlu dirancang secara terintegrasi sehingga setiap fasilitas yang tersedia dapat saling melengkapi. Menurutnya, pemerintah daerah harus memiliki peta jalan yang jelas agar investasi yang telah dikeluarkan sebelumnya tidak berakhir sia-sia.
Ia menegaskan bahwa insinerator yang telah dibeli menggunakan anggaran pemerintah semestinya tetap menjadi bagian dari strategi pengelolaan sampah, meskipun nantinya PLTSa telah beroperasi.
“Pemerintah daerah perlu memastikan seluruh sarana yang sudah tersedia tetap memiliki peran yang jelas dalam sistem pengelolaan sampah. Jangan sampai fasilitas yang telah diadakan dengan biaya besar menjadi kurang termanfaatkan karena tidak terhubung dengan program yang baru,” ujar Andriansyah, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, sejak awal DPRD pernah mendorong agar penggunaan insinerator dilakukan melalui skema percontohan terlebih dahulu. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengukur efektivitas alat sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala teknis sebelum diterapkan secara lebih luas.
Meski demikian, Andriansyah menyatakan dukungannya terhadap pembangunan PLTSa yang dinilai mampu meningkatkan kapasitas pengolahan sampah Kota Samarinda. Terlebih, proyek tersebut disebut memperoleh dukungan pembiayaan dari luar daerah sehingga tidak memberikan beban langsung terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Kendati mendukung pemanfaatan teknologi modern, ia menilai penyelesaian persoalan sampah tidak dapat hanya bergantung pada pembangunan fasilitas pengolahan. Menurutnya, pembenahan tata kelola sampah dari tingkat rumah tangga tetap menjadi kunci utama.
Ia menjelaskan bahwa kebiasaan masyarakat yang masih mencampur berbagai jenis sampah membuat proses pengolahan menjadi kurang efektif. Karena itu, perubahan pola pengelolaan sejak dari sumber harus menjadi perhatian bersama.
“Teknologi dapat membantu mengurangi volume sampah pada tahap akhir pengolahan. Namun, keberhasilan sistem secara keseluruhan tetap bergantung pada kedisiplinan masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah sejak dari sumbernya,” katanya.
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kepedulian lingkungan, Andriansyah menginisiasi komunitas Sobat Darling yang melibatkan mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan relawan lingkungan. Melalui komunitas tersebut, edukasi mengenai pengelolaan sampah, penguatan bank sampah, hingga peningkatan partisipasi masyarakat terus didorong.
Ia juga memandang bank sampah memiliki potensi yang lebih besar daripada sekadar tempat pengumpulan sampah. Menurutnya, fasilitas tersebut dapat menjadi sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui kegiatan daur ulang dan pengolahan sampah yang memiliki nilai jual.
Selain itu, DPRD Samarinda masih menemukan sejumlah lokasi pembuangan sampah ilegal di berbagai kawasan kota. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengawasan dan penegakan aturan terkait persampahan masih perlu diperkuat.
Karena itu, Andriansyah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut terlibat dalam pengawasan dan pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing. Ia menilai keberhasilan menciptakan kota yang bersih tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif warga.
“Keberadaan insinerator maupun PLTSa merupakan bagian dari solusi. Namun yang paling menentukan adalah kesadaran masyarakat untuk mengurangi, memilah, dan mengelola sampah secara benar mulai dari lingkungan rumah tangga,” pungkasnya.(adv/yii)






Users Today : 1356
Total Users : 445078
Views Today : 1686
Total views : 1508331
Who's Online : 8