Foto: Ilustrasi Rumah Adat Kutai
PUBLIKNEWS.CO, KUKAR – Upaya pelestarian budaya di Kutai Kartanegara (Kukar) terus berkembang dari sekadar menjaga koleksi artefak menjadi membangun ruang interaktif yang hidup.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar merancang pembangunan rumah adat Kutai di kawasan Museum Kayu.
Rencana ini bukan hanya proyek fisik semata, tapi bagian dari transformasi museum menjadi pusat edukasi budaya yang menghidupkan kembali filosofi dan nilai tradisional dalam format yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Bangunan rumah adat yang akan berdiri nanti diproyeksikan sebagai simbol arsitektur lokal, sekaligus sarana visual pembelajaran yang memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda.
Tidak lagi sekadar melihat dari balik kaca, tetapi benar-benar masuk dan memahami makna di balik bentuk dan ruangnya.
Pamong Budaya Ahli Muda Bidang Cagar Budaya dan Permuseuman Disdikbud Kukar, M. Saidar, mengatakan langkah ini merupakan salah satu kegiatan strategis dalam program penguatan identitas daerah.
“Kami ingin Museum Kayu menjadi tempat masyarakat belajar, merasakan, dan mencintai warisan budaya sendiri secara langsung,” jelasnya, Selasa (15/7/2025).
Meski lahan museum masih berada di bawah pengelolaan Dinas Pariwisata, kolaborasi lintas sektor telah dibangun demi kelancaran proyek ini. Sinergi ini menjadi fondasi penting dalam membentuk kawasan budaya yang tidak hanya statis, tapi terus berkembang sesuai zaman.
Menurut Saidar, pembangunan rumah adat Kutai akan melengkapi fungsi museum sebagai ruang hidup budaya, yang menghadirkan nilai historis tidak hanya dalam bentuk benda, tapi juga pengalaman ruang.
“Kenapa kami membangun rumah adat Kutai? Karena kami ingin memperkenalkan kepada masyarakat bahwa selain koleksi benda, ada juga bentuk arsitektur budaya yang harus dikenal dan dilestarikan,” katanya.
Disdikbud Kukar juga merancang agar rumah adat ini menjadi titik awal untuk pengembangan program lain, seperti pertunjukan seni, pelatihan edukatif, dan event budaya yang melibatkan masyarakat secara aktif.
Melalui rumah adat ini, nilai-nilai sosial dalam tatanan arsitektur Kutai diharapkan dapat kembali dikenali, dipahami, dan diapresiasi publik secara luas. Museum tidak lagi sekadar menyimpan benda, tapi juga menghidupkan ingatan kolektif.
“Kami membangun ini bukan hanya untuk tampilan, tapi untuk menyampaikan pesan: bahwa budaya Kutai masih hidup dan patut dibanggakan,” tutup Saidar. (Adv)







Users Today : 790
Total Users : 448560
Views Today : 939
Total views : 1513159
Who's Online : 4