Foto istimewa (ist)
Publiknews.co Samarinda – Dalam pelaksanaan tradisi Hudoq, Dinas Pariwisata Kalimantan Timur (Kaltim) berperan penting dalam mendukung dan mempromosikan acara ini. Dinas Pariwisata berupaya meningkatkan kesadaran akan kekayaan budaya lokal, termasuk ritual Hudoq, sebagai daya tarik wisata yang dapat mendukung ekonomi masyarakat.
Dukungan Dinas Pariwisata Kaltim mencakup promosi acara melalui berbagai saluran, pengorganisasian kegiatan, dan kolaborasi dengan komunitas lokal untuk memastikan bahwa pelaksanaan ritual berjalan lancar.
Dengan partisipasi aktif dari Dinas Pariwisata, tradisi Hudoq tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga diintegrasikan ke dalam program pariwisata yang lebih luas. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan, yang pada gilirannya akan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal dan melestarikan budaya suku Dayak Bahau.
Tiga rangkaian ritual, yaitu Hudoq Tahari, Hudoq Kawit, dan Hudoq Pakoq, akan digelar di akhir Oktober dan awal November.
Di tengah dinamika modern, tradisi suku Dayak, khususnya Hudoq, tetap dipertahankan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian.
Ritual Hudoq, yang melibatkan tarian dan penggunaan topeng khas, berfungsi sebagai wujud syukur dan juga sebagai cara untuk mengusir hama serta roh jahat dari ladang. Kegiatan ini berlangsung di ruang terbuka, di mana para penari bergerak dalam lingkaran penuh khidmat.
Pada tahun 2024, acara ini akan dimulai pada 26 Oktober dengan Hudoq Tahari, dilanjutkan dengan Hudoq Kawit pada 2 November, dan ditutup dengan Hudoq Pakoq pada 9 November. Semua acara akan berlangsung di Amin Ayaaq Syahrie Jaang, Jl Batu Cermin, Sempaja Utara.
Bagi suku Dayak Bahau, ritual ini lebih dari sekadar tradisi; ini adalah bagian dari identitas mereka. Ketua Sanggar Seni Apo Lagaan, Arnoldus Jansen Kuleh, menjelaskan pentingnya Hudoq sebagai simbol syukur dan pengingat akan kearifan lokal.
“Kami mengundang semua orang untuk hadir, merayakan bersama kami,” ujarnya.
Sejak pertama kali diadakan pada 2012, Hudoq Kawit telah menjadi bagian integral dari budaya masyarakat Dayak Bahau. Kuleh menegaskan bahwa ritual ini adalah upaya pelestarian budaya dan warisan yang harus dijaga.
Ritual Hudoq bukan hanya sekadar hiburan; ia menyimpan makna mendalam tentang hubungan manusia dengan alam. Kuleh berharap masyarakat tidak terlena dengan budaya asing dan tetap menghargai tradisi lokal.
Dengan memanfaatkan teknologi, mereka berupaya menarik perhatian generasi muda agar budaya Hudoq tetap hidup.
l”Adat dapat mendorong ekonomi lokal dan pariwisata,” tutup Kuleh.
(Nisa/red/ADV Dispar Kaltim)







Users Today : 488
Total Users : 441088
Views Today : 1072
Total views : 1501098
Who's Online : 5