Ket Foto: Ketua DPRD Kota Samarinda, Helmi Abdullah.
Publiknews.co, Samarinda – Persaingan di dunia kerja yang semakin kompetitif membuat lulusan sekolah maupun perguruan tinggi dituntut memiliki kemampuan lebih dari sekadar ijazah. Hal itu menjadi perhatian Ketua DPRD Kota Samarinda, Helmi Abdullah, yang menilai peningkatan keterampilan menjadi faktor penting dalam membuka peluang kerja.
Menurut Helmi, kondisi pasar tenaga kerja saat ini berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Perusahaan tidak hanya melihat tingkat pendidikan pelamar, tetapi juga mempertimbangkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
“Persaingan mencari pekerjaan sekarang semakin ketat. Karena itu, lulusan baru harus memiliki keahlian tambahan agar lebih siap menghadapi kebutuhan pasar kerja,” ujarnya, Senin (27/7/2026).
Ia mengungkapkan, meski angka pengangguran di Samarinda mengalami penurunan, persoalan ketenagakerjaan masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama. Setiap tahun, ribuan lulusan baru memasuki pasar kerja dan bersaing untuk memperoleh kesempatan yang sama.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Samarinda pada 2025 berada di angka 5,31 persen atau sekitar 25 ribu orang. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 5,75 persen.
Meski tren menunjukkan perbaikan, Helmi menilai kondisi tersebut belum cukup untuk membuat semua pihak lengah. Pasalnya, jumlah pencari kerja terus bertambah, sementara ketersediaan lapangan pekerjaan tidak selalu tumbuh dalam jumlah yang seimbang.
“Lulusan SMA, SMK, perguruan tinggi hingga pascasarjana terus bertambah setiap tahun. Ini menjadi tantangan karena kebutuhan tenaga kerja juga memiliki kriteria yang semakin spesifik,” katanya.
Politikus Partai Gerindra itu mengajak generasi muda untuk aktif mengembangkan kemampuan yang dapat menjadi nilai tambah saat melamar pekerjaan. Menurutnya, keahlian teknis maupun keterampilan praktis tertentu dapat meningkatkan daya saing seseorang di hadapan perusahaan.
Ia menilai setiap individu setidaknya perlu memiliki satu kompetensi yang bisa diandalkan, sehingga peluang diterima bekerja menjadi lebih besar dibandingkan pelamar yang hanya mengandalkan latar belakang pendidikan formal.
“Kalau memiliki kemampuan yang dibutuhkan perusahaan, tentu peluang untuk diterima akan lebih terbuka. Keterampilan menjadi salah satu faktor yang sangat diperhitungkan saat ini,” jelasnya.
Helmi juga menekankan pentingnya pemanfaatan Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) dan berbagai lembaga pelatihan lainnya sebagai sarana peningkatan kualitas sumber daya manusia. Program pelatihan yang selaras dengan kebutuhan industri dinilai mampu membantu masyarakat memperoleh bekal yang lebih siap pakai.
Selain mendukung pencarian kerja, keterampilan tersebut juga dapat menjadi modal untuk berwirausaha. Dengan kemampuan yang dimiliki, masyarakat memiliki kesempatan menciptakan usaha sendiri dan membuka lapangan kerja bagi orang lain.
“Keahlian yang dimiliki tidak hanya berguna untuk mencari pekerjaan. Itu juga bisa menjadi modal untuk membangun usaha dan menciptakan peluang ekonomi baru,” tuturnya.
Berdasarkan data BPS, Tingkat Pengangguran Terbuka Kalimantan Timur pada Februari 2026 tercatat sebesar 5,27 persen. Kondisi itu menunjukkan bahwa penguatan kualitas sumber daya manusia masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dilakukan secara berkelanjutan.
Helmi berharap pemerintah, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan lembaga pelatihan dapat terus memperkuat kolaborasi guna menyiapkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
“Kolaborasi semua pihak sangat penting agar lulusan yang dihasilkan memiliki kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja, sehingga lebih mudah mendapatkan pekerjaan atau bahkan menciptakan usaha sendiri,” pungkasnya. (advdprdsamarinda)







Users Today : 316
Total Users : 472742
Views Today : 559
Total views : 1554523
Who's Online : 1