Ket foto : Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kaltim, Heni Purwaningsih.
Publiknews.co Samarinda — Upaya Pemprov Kalimantan Timur dalam memperkuat sektor ekonomi berbasis desa kini mulai terlihat di Kecamatan Kota Bangun.
Di Desa Loleng, sebuah pabrik pakan ternak tengah dibangun sebagai proyek percontohan hilirisasi komoditas lokal dalam Program Jospol.
Fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi, tetapi dirancang sebagai pusat aktivitas ekonomi yang menghubungkan petani, koperasi, akademisi, dan pelaku pasar.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah ingin memastikan rantai usaha berjalan lebih efisien dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat desa.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kaltim, Heni Purwaningsih, menerangkan bahwa pembangunan pabrik ini berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan, terutama untuk mengurangi ketergantungan petani jagung pada tengkulak serta memaksimalkan potensi komoditas pendukung di sekitarnya.
Ia menguraikan bahwa Desa Loleng memiliki keunggulan geografis karena dekat dengan sumber jagung, bungkil inti sawit, cangkang sawit, hingga limbah ikan yang dapat diolah menjadi bahan pakan.
“Seluruh bahan baku tersedia dalam radius yang sangat dekat, sehingga proses hilirisasi dapat berjalan secara lebih efektif,” ujar Heni, Kamis (4/12/2025).
Berbeda dari proyek sejenis yang kerap digawangi pihak swasta, fasilitas ini berdiri di atas lahan hibah seluas satu hektare yang sebelumnya dikelola koperasi desa dan kini menjadi aset milik Pemprov.
Status tersebut memungkinkan pemerintah melakukan pendampingan menyeluruh, mulai dari proses pembangunan hingga perluasan akses pasar.
Kelak, pengoperasian pabrik akan dipercayakan kepada Koperasi Loleng, yang selama ini menjadi wadah bagi petani jagung dan pelaku UMKM lokal.
Penunjukan ini dinilai logis karena koperasi berada tepat di hulu rantai pasok. Dengan skema tersebut, petani dapat menjual jagung langsung ke pabrik tanpa perantara, sehingga harga lebih stabil dan terukur.
Heni menekankan bahwa model hilirisasi seperti ini menawarkan dua manfaat besar: memperkuat posisi tawar petani dan memastikan kebutuhan bahan baku industri pakan tetap terjaga.
“Hilirisasi bukan semata-mata pembangunan fisik, tetapi memastikan kesejahteraan petani meningkat melalui manfaat yang dapat mereka rasakan secara langsung,” tegasnya.
Proses lelang pengerjaan telah rampung sejak Juli lalu dan pembangunan ditargetkan selesai pada 2025.
Pada tahap awal, pabrik dirancang mampu memproduksi lima ton pakan per hari, yang dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak unggas maupun ruminansia di wilayah sekitar.
Selain mesin produksi, fasilitas ini juga dilengkapi gudang bahan baku, ruang penyimpanan, serta sarana pendukung lainnya.
Lokasinya yang berada di antara sentra sawit dan perikanan membuat jalur logistik lebih ringkas dan menekan biaya produksi.
Sebagai langkah lanjutan, DPPKUKM menugaskan pendamping khusus untuk memastikan produksi tersalurkan ke pasar yang tepat.
Pendamping tersebut bertugas menghubungkan pabrik dengan peternak dan unit usaha yang membutuhkan pakan berkualitas, termasuk program pengembangan ayam petelur probiotik yang kini sedang digiatkan Pemprov.
Dengan pola kolaboratif ini, pemerintah berharap ekosistem hilirisasi di Loleng dapat menjadi model yang diterapkan di kawasan lain.
Pembangunan pabrik pakan ini menjadi bukti bahwa komoditas lokal dapat memberikan nilai ekonomi lebih tinggi ketika dikelola melalui jaringan koperasi dan industri.
“Fasilitas yang dibangun di Loleng bukan sekadar pabrik, tetapi pondasi bagi lahirnya ekosistem ekonomi baru yang menghubungkan sektor produksi dan pasar secara langsung,” ujar Heni.
(Adv/DprdKaltim)






Users Today : 1020
Total Users : 405565
Views Today : 1484
Total views : 1435322
Who's Online : 8